Musim kemarau selalu menjadi ujian bagi para petani. Ketika curah hujan menurun, kebutuhan air meningkat dan pompa air menjadi penyelamat lahan pertanian. Di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, banyak petani mengandalkan pompa rakitan berbahan bakar gas LPG 3 kg untuk mengairi sawah mereka.
Namun, persoalan muncul ketika tabung LPG 3 kg mulai langka di pasaran. Harga melonjak, distribusi tersendat, dan petani menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Tanpa bahan bakar, pompa tidak dapat bekerja. Tanpa pompa, sawah terancam kekeringan. Pada akhirnya, produktivitas pertanian pun ikut menurun.
Ironisnya, Kabupaten Wajo memiliki kekayaan energi yang belum banyak dimanfaatkan untuk mendukung sektor pertanian. Sebagian wilayah Wajo telah menikmati jaringan gas rumah tangga (jargas) yang memanfaatkan gas bumi dari lapangan gas Energy Equity Epic Sengkang. Gas bumi tersebut selama ini langsung dialirkan ke rumah-rumah melalui jaringan pipa untuk kebutuhan memasak.
Kondisi ini memunculkan sebuah pertanyaan yang layak dikaji bersama.
Tentu, jawaban atas pertanyaan ini tidak sesederhana mengganti tabung LPG dengan tabung lain. Gas pada jaringan rumah tangga bukanlah LPG, melainkan gas alam (natural gas) yang sebagian besar terdiri dari metana. Jika ingin digunakan secara portabel, gas tersebut harus dimampatkan ke dalam tabung khusus yang dikenal sebagai Compressed Natural Gas (CNG).
Di berbagai negara, teknologi CNG telah lama digunakan sebagai bahan bakar kendaraan maupun industri. Pemerintah Indonesia bahkan mulai mengkaji penggunaan tabung CNG berukuran setara LPG 3 kg sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG.
Bagi Wajo, peluang ini menjadi semakin menarik.
Saat ini bendungan yang dibangun pemerintah diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian. Namun pembangunan jaringan irigasi menuju areal persawahan membutuhkan waktu. Selama masa transisi tersebut, petani masih sangat bergantung pada pompa air.
Karena itu, mungkin sudah saatnya dilakukan kajian mengenai sistem energi portabel berbasis CNG yang dapat dimanfaatkan oleh kelompok tani sebagai solusi sementara hingga jaringan irigasi selesai dibangun.
Gagasan ini tentu bukan berarti mengisi tabung LPG menggunakan gas dari jaringan rumah tangga. Hal tersebut tidak sesuai secara teknis maupun standar keselamatan. Yang perlu dikembangkan adalah sistem yang memang dirancang khusus untuk gas alam, mulai dari tabung, peralatan pengisian, regulator, hingga mesin pompa yang kompatibel.
Jika nantinya teknologi tersebut terbukti layak secara teknis dan ekonomis, manfaatnya bisa sangat besar.
Petani memperoleh alternatif energi yang lebih stabil.
Ketergantungan terhadap LPG dapat berkurang.
Gas bumi lokal dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.
Dan yang tidak kalah penting, daerah penghasil gas dapat lebih banyak menikmati manfaat langsung dari sumber daya yang dimilikinya.
Tentu masih banyak tantangan yang harus dijawab. Investasi tabung CNG lebih mahal dibanding tabung LPG. Infrastruktur pengisian perlu dibangun. Standar keselamatan harus dipenuhi. Regulasi juga harus mendukung agar pemanfaatannya benar-benar aman bagi masyarakat.
Namun, setiap inovasi selalu diawali oleh sebuah pertanyaan. Mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan hari ini bukanlah "Apakah CNG dapat menggantikan LPG?"
Melainkan, "Apakah Kabupaten Wajo layak menjadi daerah percontohan pemanfaatan gas bumi lokal untuk mendukung energi pertanian?"
Jika jawabannya "ya", maka inilah saat yang tepat bagi pemerintah, perguruan tinggi, perusahaan pengelola gas, kelompok tani, dan para peneliti untuk duduk bersama merancang solusi.
Karena ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh benih, pupuk, dan air. Ketahanan pangan juga ditentukan oleh ketersediaan energi yang mampu menggerakkan pertanian di saat kondisi paling sulit.
Wajo memiliki sawah, Wajo memiliki sumber gas bumi. Mungkin sudah saatnya kedua potensi tersebut dipertemukan melalui sebuah inovasi yang lahir dari kebutuhan masyarakat sendiri.
Sumber : https://lkn-otda.com/di-tengah-kelangkaan-lpg-3-kg-saatnya-wajo-melirik-tabung-cng-untuk-petani-detail-463981